Sabtu, 25 Februari 2023

PERJALANAN SPIRITUAL NABI MUSA DAN NABI KHIDIR


 

CARA ALLAH MENYAYANGI HAMBANYA




Cara Allah menyayangi mu terkadang bukan dengan memberi mu hidup dalam limpahan harta, Tapi dengan memberi mu hidup penuh kesederhanaan, Sebab Allah ingin meringankan hisab mu.
Cara Allah menyayangi mu terkadang bukan dengan memberi mu kesehatan, Tapi dengan memberi mu sakit, Sebab Allah ingin menghapus dosa-dosa mu.
Cara Allah menyayangi mu terkadang bukan dengan cara memberi mu kebahagiaan dan kenyamanan, Tapi dengan memberi mu berbagai musibah dan ujian, Sebab Allah ingin meninggikan derajad mu kelak di surga.
Cara Allah menyayangi mu terkadang bukan dengan cara mengabulkan apa yang engkau inginkan, Tapi dengan menunda doa mu atau menggantikan sesuatu yang lain, Sebab Allah tahu bahwa ada bahaya dibalik yang kau minta.
Untuk itu tetaplah berhusnudzon kepada Allah, atas segala kesusahan, sakit, ujian, kesulitan dan kegagalan yang kau hadapi.
Karena jalan untuk menuju surga-Nya itu tak mudah.
Butuh ujian agar kita mendapatkan banyak pahala dari-Nya.
Butuh kesabaran agar kita mendapat ridho-Nya,
Butuh sakit agar kita mendapatkan ampunan-Nya,
Butuh pengorbanan agar kita mendapatkan kedudukan yang tinggi di surga-Nya.
Begitulah terkadang cara-cara Allah menyayangi mu..
Bahkan beberapa luka diciptakan untuk tidak sembuh, agar menjadi pelajaran bermakna dan jika kita IKHLAS, maka akan mendapat pahala.
Maka bersabarlah pada semua takdir yang kau hadapi, Sungguh pada akhirnya engkau akan mengerti bahwa dibalik semua yang telah Allah gariskan ternyata menyimpan banyak kebahagian dan kebaikan.

Sabtu, 11 Februari 2023

Biografi K.H Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha)

 


K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim, yang lebih dikenal sebagai Gus Baha, merupakan ulama yang berasal dari Rembang Jawa Tengah. Beliau dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan sangat mendalam seputar al-Qur'an. Beliau merupakan salah satu murid atau santri dari ulama kharismatik yakni K.H Maimun Zubair atau Mbah Moen. Gus Baha merupakan putra dari pasangan ulama ahli al-Quran, KH Nursalim al-Hafizh dan Hj Yuchanidz Nursalim. Dari pihak ayah, beliau adalah generasi keempat ulama ahli al-Quran. Sementara dari garis keturunan sang ibu, Gus Baha adalah bagian dari keluarga besar ulama Lasem, Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu. Sejak kecil, Gus Baha belajar Al-Quran dengan sang ayah. Di masa remaja, beliau belajar ilmu agama lebih dalam kepada Syaikhona KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) di Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Rembang.